Skip to main content
News and Articles

Andalkan Bambu, Indonesia Berjuang Hasilkan Energi Hijau yang Aman Bagi Pedesaan

By April 21, 2021No Comments

Desa-desa di Indonesia berjuang mendapatkan energi hijau yang aman menggunakan bambu. Selain tumbuh cepat bahkan di tanah tandus, bambu dinilai dapat menjadi terobosan ekonomi, dan membatasi emisi global.

 

Ilustrasi warga di Siberut, Kepulauan Mentawai

 

Mateus Sabojiat dan Anjelina Sadodolu adalah warga desa Saliguma, Siberut. Pasangan yang memiliki enam anak ini tinggal hanya beberapa ratus meter dari pembangkit listrik pertama di Indonesia yang dirancang dengan bahan bakar bambu, yakni salah satu dari tiga fasilitas yang dibangun untuk mengalirkan listrik ke desa-desa terpencil di Siberut.

Namun, hampir tiga tahun setelah konstruksi selesai, pembangkit listrik tenaga biomassa Saliguma itu hanya mampu memasok listrik ke beberapa desa yang dihuni 3.780 penduduk, antara pukul 6 sore hingga tengah malam. Saat ini pun sudah tidak menggunakan bambu seperti tujuan awal.

“Listrik hanya hidup saat waktunya tidur,” kata Sadodolu.

Karena masalah baterai pabrik dan peralatan penting lain yang terjadi sejak September, pembangkit listrik itu kini menggunakan diesel hingga awal April. Energi diesel menyediakan daya yang lebih stabil tetapi tidak bersih. 

Perbaikan yang sedang berlangsung berarti bahwa pembangkit listrik itu masih menggunakan kombinasi solar dan kayu.

Bambu mampu jadi terobosan ekonomi daerah terpencil

Masyarakat pedesaan di Indonesia telah memanen bambu untuk makanan, bahan bakar, dan tempat tinggal selama berabad-abad.

Ilmuwan kehutanan mengatakan bahwa selain mampu tumbuh dengan cepat bahkan di tanah tandus, bambu juga dapat membawa terobosan ekonomi di daerah terpencil sekaligus membatasi emisi pemanasan global dan menyediakan energi.

“Ini jenis vegetasi yang indah,” kata Marcel Silvius, kepala Indonesia di Global Green Growth Institute (GGGI), sebuah organisasi antar pemerintah yang membantu negara berkembang melaksanakan aksi iklim.

“Bambu memiliki massa akar yang signifikan, dan membawa karbon dan air kembali ke dalam tanah,” katanya kepada Thomson Reuters Foundation. 

Sebuah makalah tahun 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Sustainability menunjukkan bahwa bambu memiliki nilai energi yang tinggi dan dapat menyerap karbon bahkan lebih banyak daripada spesies pohon lain yang juga tumbuh cepat.

Ilmuwan kehutanan dan pemerhati lingkungan membayangkan konsep circular economy yang hijau, yakni masyarakat menanam bibit bambu di lahan yang tidak produktif, kemudian menerima pendapatan dan energi bersih yang terjangkau dari biomassa yang mereka jual ke pembangkit listrik lokal.

Para ahli mengatakan sistem itu dapat membantu memulihkan 24 juta hektar lahan kritis Indonesia, dan mengurangi ketergantungan pada generator diesel yang mahal dan memangkas impor energi.

Selain itu dapat berkontribusi untuk mewujudkan target Indonesia mengurangi emisi pemanasan iklim sebesar 29% dari tingkat bisnis pada tahun 2030. 

“Kami tidak akan bisa menghubungkan semua pulau di Indonesia dengan satu kabel dalam satu jaringan seperti di Eropa,” kata Jaya Wahono, pendiri Clean Power Indonesia dan pelopor energi bambu di Tanah Air. 

Biaya yang murah

Clean Power Indonesia pertama kali merencanakan pembangkit listrik tenaga bambu percontohan di Bali pada 2013, tetapi terhenti setelah Perusahaan Listrik Negara (PLN) menawarkan hanya setengah dari pembayaran 15 sen per kilowatt jam yang diperlukan untuk membuat proyek tersebut, menurut Wahono.

Pada 2017, sebuah badan bantuan AS Millennium Challenge Corporation mulai mendistribusikan hibah $ 12 juta (Rp 173 miliar) kepada Clean Power Indonesia untuk membangun tiga pembangkit listrik tenaga biomassa di pulau Siberut, dengan kapasitas pembangkit gabungan 700 kilowatt.

Keluarga yang tinggal di sekitar masing-masing menerima 100 bibit bambu, tetapi pohon tersebut membutuhkan waktu beberapa tahun untuk tumbuh.

Penduduk Saliguma mengatakan stok lain yang tersedia tumbuh terlalu jauh, sehingga usaha untuk mengumpulkannya tidak sebanding dengan harga yang ditawarkan pabrik 700 rupiah per kilo.

“Kalau saya jual 10 kilo, itu 7.000 rupiah dan saya masih belum bisa merokok,” kata Leo, penduduk setempat berusia 46 tahun, sambil mengacungkan sebungkus rokok seharga lebih dari 20 kilogram bambu.

Dua pabrik lainnya di Siberut masih menggunakan bambu tetapi hanya menghasilkan tenaga enam jam sehari karena kurangnya permintaan, kata pejabat setempat.

Hari Kristijo yang mengawasi pengembangan proyek bambu itu di Kementerian PPN/Bappenas, mengatakan bahwa keputusan untuk memasok listrik hanya di malam hari dilakukan karena periode tersebut adalah puncak permintaan, yang berarti biaya produksi yang lebih rendah.

Banyak penduduk Saliguma menyatakan kekecewaannya karena pabrik tersebut belum menyediakan tenaga di siang hari yang mereka butuhkan untuk menghemat uang dari penggunaan bahan bakar dan memulai bisnis untuk memicu perekonomian.

“Alam itu indah,” kata Sabojiat. “Tapi apa bedanya jika Anda tidak punya uang?”

Mengganti bahan bakar

Pembangkit listrik tenaga biomassa dimaksudkan untuk membantu menggantikan pembakaran bahan bakar di dalam rumah dengan tenaga listrik dari sumber pusat.

Sadodolu dan Sabojiat menyalakan api sekitar empat jam sehari untuk memasak makanan dan merebus air.

Pada tahun 2018, lebih dari 19.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal karena pneumonia yang sebenarnya dapat dicegah di Indonesia. Demikian menurut UNICEF yang mengaitkan sebagian besar kematian tersebut dengan polusi dalam ruangan dari pembakaran bahan bakar padat.

pkp/gtp (Reuters)
Sumber: dw.com