Stories from Siberut: Meet Pak Adam Sakairiggi

Adam dan Arwani di pagi hari di Desa Matotonan. Adam mengunjungi Arwani untuk menginformasikan perkembangan jumlah kebun yang sudah ia petakan, dan juga mentransfer data dari alat GPS-nya ke komputer Arwani.

The electrification of remote villages using renewable sources is not the only goal of MCA-I’s Green Prosperity Project. It also aims to “develop, finance, and implement green growth project at the district level that encourages entrepreneurship, strengthens district-level spatial planning, expands access to renewable energy, and enchances environmental stewardship” (source mca-indonesia.go.id)

In March 2017, CPI secured a community based renewable grant under the Green Prosperity Project to develop biomass based powerplants in three villages in Siberut, owned and maintained by the people of Siberut. The Stories from Siberut segment will highlight the experiences of the people in the process of construction and development. These experiences come from observations by the CPI team on the field, and they reach beyond merely the benefit of having a source of electricity.

Below is the story of pak Alex from Matotonan village, as observed by ibu Rini Hanifa, CPI’s Monitoring and Evaluation consultant:

Memetakan kebun bambu untuk memudahkan pengelolaan

Adam Sakairiggi, bapak dari tiga anak yang berusia 28 tahun menjelaskan dengan penuh semangat keterlibatannya dalam memetakan lahan penanaman bambu. Dengan bangga dia menceritakan kalau dia sudah bisa menggunakan alat GPS, meski perintah pengoperasian dari alat tersebut menggunakan bahasa Inggris. Dia menjelaskan kalau pertama kali dia belajar menggunakan alat GPS tersebut dari Juli Wongso, Ekologika. Untuk keseharian, Adam mendapatkan bimbingan teknis dari Arwani, staf Ekologika lainnya, yang menghabiskan hampir seluruh waktunya di desa. Arwani bertanggungjawab untuk melakukan pendampingan dan melakukan pemetaan di dua desa, yaitu desa Matotonan dan desa Madobag. Di Desa Matotonan, Arwani tinggal di sebuah kamar yang disewa dari salah satu warga, pak Justinus, yang sekaligus juga berfungsi sebagai posko Ekologika di desa tersebut. Adam dengan setia, secara teratur melakukan kunjungan ke rumah pak Justinus untuk bertemu dengan Arwani. Dia menceritakan perkembangan pekerjaannya, jumlah lahan yang sudah ia petakan, dan juga mentransfer data dari alat GPS-nya ke komputer Arwani. Terkadang Adam juga datang hanya untuk mengobrol ringan sambil minum kopi.

Adam yang bersekolah hingga SMP, tidak pernah menyangka kalau dia akan mendapat kepercayaan ini. Bagi dia pekerjaan pemetaan dengan menggunakan GPS lebih bergengsi dibandingkan pekerjaan sebagai tukang angkat batu atau pasir. Melalui pekerjaannya dia belajar banyak hal baru, sebagaimana yang dia ungkapkan.
“Dari titik-titik koordinat tersebut, ukuran dalam satuan m2 bisa diketahui, dengan demikian, dari lahan yang saya petakan, kita bisa mengetahui berapa luas lahan yang sudah ditanam dengan pohon bambu. Pertama yang saya lakukan adalah mencari informasi, siapa masyarakat yang melakukan pengambilan bibit. Bibit diambil dengan menggunakan surat jalan yang memuat informasi angka urut (kode) pengambilan bibit”. Dari kode tersebut diketahui varietas bibit bambu yang diambil. Bapak/ Ibu yang mengambil bibit, akan melaporkan kembali jika bibit tersebut sudah ditanam. Adam akan mengunjungi kebun bapak/ ibuk tersebut dan melakukan pemetaan. Titik koordinat yang dipetakan disimpan dan di beri nama sesuai dengan nama petani yang menanam bambu tersebut.

Dari Arwani, dan Juli, Adam mengetahui kalau pekerjaannya akan memberikan manfaat dikemudian hari. Bahwa dengan adanya pemetaan, akan memudahkan panen bambu nantinya, dan dengan adanya peta, jarak bambu terdekat dan terjauh dari pembangkit listrik bisa diketahui. Adam yakin kalau keahlian GPS-nya akan bermanfaat dan akan terus dibutuhkan untuk berbagai pembangunan yang ada di desanya dimasa mendatang, untuk itu, dia terus berupaya meningkatkan keahliannya dengan terus berkonsultasi dan belajar dari tim Ekologika.