Listrik Tenaga Bambu, made In Indonesia, Pertama di Dunia

Bogor, GATRAnews – Mungkin banyak yang tidak tahu, bambu, tanaman yang sangat akrab dengan hampir seluruh penduduk Indonesia, ternyata bisa menjadi sumber energi ramah lingkungan. Ya menghasilkan listrik, powerplant dari Bambu, yang sedang dibangun di pulau Mentawai. Jauh dan terpencil memang, kalau mau lebih dekat bisa ke Bangli, di Pulau Dewata, Bali.

“Proyek Mentawai merupakan offgrid biomass power plant dari bambu pertama di dunia,” kata Marc Peeters pada seminar ‘Pertanian Berkelanjutan: menuju Pertanian berbasis bio-Ekonomi’ di Institut Pertanian Bogor, hari ini.

Marc adalah presiden direktur PT Bambu Nusa Verde (BNV), perusahaan Belgia yang mengelola laboratorium kultur jaringan di Yogyakarta. BNV menghasilkan sekitar 30 spesies bambu, seperti Phylostachys Nigra berasal dari Cina, Oxytenanthera abysinica dari Kenya, Guadua amplexifolia dari Venezuela menggunakan teknologi in-vitro (kultur jaringan) untuk pembuatan benih bambu, atau “kloning bambu” tanpa modifikasi genetik.

Proyek powerplant bambu Mentawai adalah karya anak bangsa, PT Clean Power Indonesia. Proyek ini pada tahun 2015 lalu mendapat grant dari Millenium Challenge Account Indonesia.

Menurut pendiri dan Presiden Direktur CPI Jaya Wahono, Mentawai merupakan proyek percontohan untuk melistriki tiga desa di Siberut, sebuah pulau berjarak 150 km di lepas pantai Sumatera.

“Desa-desa kecil – Madobag, Matotonan, dan Saliguma – berlokasi di Siberut Biosphere Reserve (Cagar Alam Dunia) yang hanya dapat dicapai dengan naik perahu selama empat jam, kini bisa terang tanpa perlu solar,” kata Jaya.

Listrik dihasilkan melalui gasifikasi – proses pemanasan biomassa di unit khusus, kemudian gas dihasilkan menjadi bahan bakar pada mesin gas. “Inisiatif ini diharapkan menghasilkan sekitar 14-50 kilowatt (kW) di dusun kecil, dan sampai 100-300 kW di desa-desa,” ujar lulusan Tehnik Mesin dari Institut Teknologi Bandung ini.

Studi kelayakan, lanjutnya, menunjukkan bahwa dua batang bambu – masing-masing sekitar sepuluh kilogram – dapat memberikan energi yang cukup untuk satu keluarga selama periode 24-jam. Untuk memaksimalkan dampak ekonomi lokal, produk sampingan berupa arang – juga akan digunakan untuk memasak dan merekondisi tanah peladangan rakyat.

Inisiatif ini merupakan solusi pembangkitan listrik untuk masyarakat terpencil di tempat lain di Indonesia.

“Saat ini di Indonesia ada sekitar 10.000 desa dan dusun tanpa akses listrik,” kata Jaya. Sementara di seluruh dunia, sekitar 1,3 miliar orang saat ini hidup tanpa listrik.

Tapi, lanjutnya, potensi juga harus dikomunikasikan secara efektif. Salah satu kendala adalah persepsi orang Indonesia sendiri bahwa bambu hanya untuk bahan baku kerajinan.”Padahal bambu bisa diaplikasikan lebih luas, termasuk sumber energy lokal,” katanya.

Sukses di Siberut, lanjut Jaya, akan memberikan keyakinan kepada banyak orang untuk menerima fungsi bambu yang lebih luas. Proyek percontohan lain yang dikembangkan oleh Clean Power Indonesia adalah untuk membuktikan bahwa bambu juga dapat menjadi sumber biomassa bagi pembangkit listrik yang terkoneksi dengan jaringan listrik PLN.

Proyek di Bali adalah proyek on-grid (masuk ke jaringan distribusi Perusahaan Listrik Negara) pertama di Indonesia dan dunia yang menggunakan bambu sebagai sumber biomassa. “Sekaligus akan menjadi showcase bagi Bali sebagai ‘Pulau Energi Bersih’,” kata Jaya.

Bambu: Tumbuhan Paling Ramah Lingkungan

Bambu adalah tanaman yang tumbuh tercepat di darat. Bambu bisa tumbuh 2 meter dalam satu minggu, dan sangat haus menghisap karbon dioksida (gas rumah kaca). “Bambu mengkonsumsi karbon dioksida 4 kali lebih cepat dari tanaman apapun,” kata Jaya. Bambu juga menghasilkan oksigen 35% lebih banyak dari tanaman lain yang memiliki tinggi sama. “Jadi bambu adalah tanaman yang ideal untuk memecahkan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim,” ujar Jaya.

Selain sebagai “Carbon Sinks” alami terbaik, bambu dapat ditanam di lahan kritis, sehinga dapat digunakan untuk rehabilitasi lahan, pencegah erosi, dan juga bisa menjadi bahan dasar untuk Pulp dan Kertas, Tekstil, pengganti kayu atau arang untuk pemurnian air, dan energi.

Bambu adalah tanaman yang sangat berkelanjutan, dia terus tumbuh setelah panen berbatang-batang setiap tahunnya. Tunas baru datang setiap tahun, untuk menggantikan batang yang dipanen. Batang yang dipanen merupakan bahan untuk membuat produk akhir, tanpa merusak tanaman dan lingkungan hidup.

Maka, lanjut Jaya, bambu merupakan bio-massa di masa depan, yang akan digunakan untuk pembangkit listrik. “Ini sangat cocok untuk desa-desa terpencil dan pulau-pulau kecil di Indonesia yang hanya dapat dijangkau oleh pembangkit listrik off-grid,” kata Jaya.

Pada hari Rabu, 16/03/16, ini Jaya meneken kerjasama dengan BNV dan Prints Group dari Belgia di Bogor. PT Bambu Nusa Verde adalah pelopor dunia dalam produksi spesies bambu tropis dengan kultur Jaringan.

Kultur Jaringan adalah solusi karena spesies bambu tropis jarang menghasilkan biji, dan menggunakan cara klasik untuk penanaman perlu waktu dan hanya dapat dilakukan pada skala kecil.

Benih Bambu yang diproduksi di BNV dipasok ke pasar lokal dan ekspor. Ekspor dilakukan ke beberapa negara di Afrika, Asia, Australia, dan Amerika Selatan. Dendrocalamus asper, bambu raksasa dari Indonesia, adalah spesies bambu yang paling banyak dibeli baik lokal maupun ekspor.

Menurut Jaya, hutan bambu yang dikelola secara professional diperlukan untuk memasok bahan baku biomassa berkelanjutan untuk pembangkit listrik yang lebih besar. Hutan bambu yang dikelola ini juga dapat dikembangkan sebagai bahan baku pulp dan kertas ramah lingkungan untuk menjadi menggantikan kapas di industri tekstil.

Keberhasilan dalam mengembangkan hutan bambu komersial akan sangat bergantung pada ketersediaan bibit bambu yang cukup banyak. “Untuk ini kita bisa mengandalkan fasilitas kultur jaringan bambu di seluruh Indonesia,” katanya.