Listrik Biomassa Bambu Mentawai Segera Beroperasi

Pembangkit listrik biomassa bambu di Desa Saliguma, Siberut Tengah, Mentawai yang segera beroperasi. (Foto:Hendrikus Bentar)

SIBERUT–Rasio elektrifikasi di Kabupaten Kepulauan Mentawai baru mencapai angka 27 persen, termasuk rendah dibanding rasio elektrifikasi nasional yang mencapai 95 persen. Masih ada sekira 23 desa lagi yang belum teraliri listrik.

“Dampaknya ekonomi sulit berkembang terutama industri kecil karena tidak ada pasokan listrik sebagai sumber energi serta tingginya biaya yang ditanggung oleh masyarakat untuk membeli bahan bakar minyak untuk menyalakan diesel pribadi 500 ribu per kwh. Secara sosial tentu masyarakat terbatas mengakses pendidikan, kesehatan dan kegiatan sosial lainnya,” kata Wakil Bupati Mentawai, Kortanius Sabeleake kepada Puailiggoubat, Minggu, 11 Maret 2018.

Program Mentawai Terang menjadi salah satu upaya Pemda meningkatkan rasio elektrifikasi, diantaranya mendorong PLN untuk terus meningkatkan cakupan layanan di desa-desa juga memfasilitasi PLN untuk bisa berkomunikasi dengan masyarakat soal pembebasan lahan dan tanaman yang terkena.

“Apabila ada penambahan pembangkit dan jaringan, Pemda juga mendorong Pemprov Sumatera Barat dan pemerintah pusat untuk mengalihkan anggaran Kementerian ESDM untuk listrik off grid seperti PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) di desa-desa dan pulau-pulau terluar serta mencari skema hibah dari negara donor untuk membiayai proyek pembangunan pembangkit listrik berbahan biomassa bambu di Siberut,” ujarnya.

Melalui program Mentawai Terang, Pemda Mentawai menargetkan rasio elektrifikasi jadi 100 persen pada 2030 melalui bauran energi dan 15 tahun setelahnya melalui energi terbarukan.

Namun ada kendala untuk mencapai target itu, pertama tidak adanya kewenangan Pemda kabupaten untuk mengurus energi sesuai UU 23/2014, kedua, sulitnya akses dan mahalnya biaya membangun infrastruktur di kepulauan, jelasnya.

Program Biomassa Bambu

Salah satu program Mentawai Terang Pemda Mentawai adalah proyek pengadaan listrik terbarukan berbahan biomassa bambu. Program ini mulai diluncurkan sejak Maret 2017 lalu melalui hibah Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI) dengan kontraktor pelaksana PT. Clean Power Indonesia (CPI). Dananya cukup besar, USD 12,4 juta.

CPI kemudian menggandeng PT Inti Karya Persada Teknik (IKPT) sebagai kontraktor dan PT. Indopower International untuk konsultan penyusun UKL/UPL serta Ekologika sebagai konsultan feedstock, pembibitan dan penanaman bambu.

Proyek pembangkit dibangun di tiga desa, Desa Madobak dan Matotonan di kecamatan Siberut Selatan dan Desa Saliguma di Siberut Tengah. Setelah setahun berjalan, pembangunan pembangkit dan jaringan hampir rampung. Diperkirakan, sekira Mei atau Juni, listrik biomassa bambu bisa beroperasi, jelas Korta.

Untuk mendukung proyek tersebut, Pemda Mentawai membangun akses jalan ke Madobak dan Saliguma, membangun ketersediaan air bersih, memfasilitasi pembentukan Bumdes untuk dipersiapkan mengelola dan mengoperasikan usaha ini di kemudian hari dan menyusun berbagai regulasi dan rekomendasi serta koordinasi dengan stakeholder. “Termasuk pembebasan lahan 300 hektar di Saliguma dari hutan yang bisa dikonversi (HPK) ke APL dan tahun ini tata batasnya, itulah peran Pemda,” ujarnya.

Untuk keberlanjutan proyek setelah program dari MCAI tutup, semua menjadi tanggung jawab PT. CPI dan IKPT melalui skema cofinance dengan suvervisi dari Bappenas dan Bappeda Mentawai. “Bappenas akan supervisi dan setelah selesai pembangunan aset akan dihibahkan ke Pemda,” ujarnya.

Kerja sama dengan PLN adalah kerjasama b to b (business to business) dengan skema akses power, dimana PLN akan membeli dari PT. Kemakmuran Mentawai Hijau selaku konsorsium pengelola dengan menyambung ke jaringan PLN dan PLN yang menjual ke masyarakat. “Hal ini untuk menjaga keadaan mutu dan keberlanjutan,” katanya.

Sementara itu Soeseno Adji dari IKPT mengatakan, hingga saat ini, pembangunan power plant di Saliguma sudah mencapai 97 persen, Madobak 80 persen, sedangkan untuk Desa Matotonan memang terlambat, masih 65 persen. “Tiga desa ini tinggal pemasangan pipa dan kabel-kabel serta pembersihan,” katanya kepada Puailiggoubat, Jumat 9 Maret 2018.

Keterlambatan proyek ini dikarenakan ada berbagai hal salah satunya perizinan dan pembebasan lahan. “Mobilisasi peralatan sudah dilakukan sejak sejak April 2017 namun baru bisa melakukan aktivitas itu pada Agustus, pada bulan itu sempat terhenti karena masalah perizinan lahan,” katanya.

Jika pembangkit sudah berjalan, butuh 17 ton bambu untuk mengoperasikan pembangkit di tiga desa per hari, Madobak 7 ton, Matotonan 5 ton, dan Saliguma 5 ton. Karena itu, PT. CPI mempercepat penanaman bambu oleh masyarakat. Mereka juga menggandeng NGO lokal, Yayasan Kirekat Indonesia untuk itu.

Karena bambu baru ditanam, menurut Seno, panggilan Soeseno Adji, selama tiga tahun ini, mereka akan menggunakan potongan kayu bekas yang lunak untuk mengoperasikan pembangkit. Sebab panen bambu diperkirakan baru pada tahun 2021.

Hingga saat ini, instalasi di tiga desa sudah terpasang. Masing-masing rumah mendapat jatah dua bola lampu dan satu stop kontak. Ada 1.223 keluarga yang akan menikmati aliran listrik itu, di Madobak 567 kepala keluarga, Saliguma 388 kepala keluarga, dan Matotonan 268 kepala keluarga.

“Nantinya bola lampu pun bisa ditambah setelah serah terima. Setelah proyek ini selesai yang mengelola nanti itu Kemakmuran Mentawai Hijau (KMH) bekerja sama dengan Bumdes dan PLN,” ucapnya.

Menjawab persoalan rusaknya bakau saat pemindahan power plant karena tertimbun tanah, menurut Seno sudah diselesaikan dengan menanam kembali 35 batang bakau yang rusak serta menanam 30 batang di daerah lain.

Ditambahkan oleh Erik Saurei, perwakilan PT. CPI di Siberut, dalam sehari, masyarakat akan menyetor bambu 2 batang. Bambu itu dibeli Kemakmuran Mentawai Hijau (KHM).

“Dalam satu kelompok keluarga akan mendapatkan arus listrik 450 Volt Ampere, kalau ada masyarakat yang tidak menyetor bambu, itu tanggung jawab pemerintah desa karena nantinya akan diserahkan ke Bumdes, tergantung pemerintah apakah pemutusan arus atau tidak,” katanya.