23 Desa di Mentawai Belum Dialiri Listrik PLN

PADANG, HARIANHALUAN.COM—Dari 43 desa di Kabupaten Kepulauan Mentawai, 23 desa di antaranya belum dimasuki listrik PLN. Karena itu, rasio elektrifikasi (RE) Mentawai paling rendah daripada RE di semua daerah di Sumatra Barat (Sumbar).

Kepala Bidang Energi dan Ketenagalistrikan pada Dinas ESDM Sumbar, Edrizal, membeberkan, berdasarkan data PLN, di Pulau Siberut, pulau paling besar di Mentawai, 8 desa sudah terlistriki, sedangkan 12 desa lainnya belum terlistriki PLN. Sementara itu, di Pulau Sipora, 9 desa sudah dimasuki listrik, sementara 4 desa lagi belum dimasuki listrik PLN. Adapun di Pulau Pagai/Sikakap, 3 desa belum tersentuh jaringan listrik, sedang, sedangkan 7 desa belum terjamah jaringan listrik PLN. Dengan demikian, RE Mentawai hanya 29,80 persen.

Menurut Edrizal, RE Mentawai sebesar 29,80 persen itu merupakan RE terendah dibandingkan dengan RE di semua daerah di Sumbar.

“RE rata-rata di Sumbar di atas 70 persen, bahkak Kota Padang, Kota Pariaman, dan Kota Solok, RE-nya100 persen,” ujarnya di Padang, Selasa.

Untuk meningkatkan RE Mentawai, kata Edrizal, Kementerian ESDM membangun secara bertahap Pembangkit Listrik Tenga Surya (PLTS) di desa-desa Mentawai yang belum terlistriki PLN. Ia menyebutkan, Kementerian ESDM kali pertama membangun PLTS di Mentawai pada 2014. Pada tahun itu, Kementerian ESDM membangun 8 PLTS. Program itu berlanjut pada tahun-tahun selanjutnya. Pada 2015, Kementerian ESDM membangun 6 PLTS, pada 2016 8 PLTS, dan 2017 15 PLTS, 9 PLTS di antaranya dibangun dengan dana APBD Mentawai.

“Saat ini terdapat setidaknya 37 PLTS di tiga pulau di Mentawai. Dengan 37 PLTS itu, RE Mentawai menjadi 43,6 persen,” ucapnya.

Untuk meningkatkan lagi RE Sumbar, kata Edrizal, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, mengusulkan kepada Kementerian ESDM untuk membangun lagi PLTS di Mentawai. Gubernur telah mengusulkan kepada Kementerian ESDM untuk membangun 19 PLTS di Mentawai pada 2018. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, usulan itu sudah dibahas dalam rapat terbatas kabinet bersama gubernur dan presiden.

Mengenai PLTS, Edrizal menjelaskan, PLTS dibangun di Mentawai karena di sana tidak ada potensi air sungai yang bisa dimanfaatkan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Kalau ada potensi air sungai, Kementerian ESDM akan membangun PLTMH di Mentawai karena PLTMH punya daya lebih besar daripada PLTS.

“PLTMH bisa dimanfaatkan untuk industri rumahan, sedangkan PLTS hanya untuk penerangan,” katanya.

Edrizal menambahkan, di Sumbar, selain di Mentawai, PLTS terdapat di beberapa daerah, antara lain, Sijunjung, Pasaman Barat, dan Pasaman Timur. (h/dib)